Petani Milenial Harapan Indonesia Wujudkan Swasembada Pangan

Peluang Bisnis Boba Tea yang Tengah Hits
June 17, 2019
Generasi Milenial dan Generasi Z di Bisnis Fashion
June 19, 2019

Zaman sekarang ini, banyak generasi muda yang lebih memilih bekerja di perkantoran atau mengembangkan usaha digital lainnya. Para milenial lebih memilih bekerja di perusahaan ternama ataupun menjadi Influencer, Youtuber maupun Blogger dibandingkan bekerja menjadi petani. Hal ini patut dimaklumi, mengingat bertani masih dianggap kuno dan ‘kampungan’.

Tidak heran mengapa bertani dianggap kuno dan ‘kampungan’, sebab bertani identik dengan pekerjaan berat. Misal, harus berhadapan dengan terik matahari maupun hujan, belum lagi dengan bau pupuk ditambah dengan pakaian yang kotor akibat lumpur dan tanah. Kegiatan bertani disebut konvensional dan ketinggalan zaman, tidak mendatangkan gengsi maupun keuntungan finansial yang tinggi, apabila dibandingkan dengan profesi lainnya yang lebih kekinian

Selain itu, keengganan generasi milenial untuk terjun ke dalam dunia pertanian dikarenakan kurangnya sentuhan alamiah dalam bermain dengan alam. Sebagian besar waktu dihabiskan di dalam ruangan, baik saat di sekolah maupun di rumah. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang menjadikan kebun dan sawah sebagai area bermain.

Lahan juga menjadi faktor pemicu generasi milenial enggan terjun ke bidang pertanian. Meskipun memiliki lahan, generasi milenial keturunan petani pun masih enggan meneruskan usaha orang tuanya. Hanya sebesar 3% generasi milenial dari keluarga petani yang mau terjun menjadi petani.

Padahal jika dilihat lebih jauh pendapatan dari dunia pertanian bisa lebih menjanjikan daripada pekerja kantoran apabila dikelola dengan baik. Sebab, hasil olahan dari pertanian merupakan kebutuhan premier manusia dan selalu dibutuhkan setiap saat.

Dunia pertanian saat ini juga semakin berkembang. Bertani tidak hanya dilakukan di ladang atau kebun. Sebagai contoh, petani muda bernama Yogi Pamungkas Nugroho, pemuda asal Jawa Timur ini sukses meraup omzet hingga puluhan juta rupiah dari berjualan sayuran hasil hidropnik. Jadi keterbatasan lahan bukan menjadi alasan para generasi milenial untuk tidak bertani, media lain seperti hidroponik misalnya, bisa dijadikan alternatif untuk milenial yang tidak memiliki lahan.

Perubahan petani tradisional ke petani modern juga menjadi salah satu aspek yang harus milenial pikirkan. Saat ini bertani bukan hanya pekerjaan konvensional yang kuno atau ketinggalan zaman. Bertani yang sukses tidak melulu mengandalkan otot, melainkan juga otak. Para petani saat ini harus memiliki fokus dan tidak main-main, tidak segan mengeluarkan modal yang lebih besar untuk hasil yang lebih besar pula.

Harus diingat juga bahwa hasil pertanian merupakan kebutuhan primer bagi semua manusia untuk bertahan hidup. Apabila dikelola dengan baik dan terus berinovasi maka hasil pertanian bisa memberikan pendapatan yang baik. Jadi tidak menutup kemungkinan bila mengatakan menjadi petani di era milineal sekarang ini bisa memberikan pendapatan yang juga menjanjikan dari pekerjaan lainnya.

Apalagi saat ini, pemerintah, melalui Kementerian Pertanian juga mendukung para generasi milenial untuk menjadi petani dengan meluncurkan Program Satu Juta Petani. Dengan program ini, diharapkan para milenial memiliki minat untuk menjadi petani dan dapat mewujudkan Indonesia sebagai negara swasembada dan ladang pangan dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *