Sarjana Psikologi yang Sukses Lewat Bisnis Gudeg

Modal Rp 300.000, Pria Ini Bisnis Jeans Beromzet Rp 300 Juta/Bulan
July 13, 2018
Bermodal Kreativitas, Wanita Ini Sukses Bisnis Tas Unik Kombinasi Batik dan Kulit
July 16, 2018

Apa yang biasanya dilakukan mahasiswa selepas lulus dari universitas? Pada umumnya mereka akan mencari pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang mereka dapatkan di bangku kuliah. Selain untuk mempraktikkan ilmu, mereka juga ingin sekaligus mengikuti jalur karier yang umum dilakukan banyak orang.

Hal berbeda justru dilakukan oleh Jeffry Sie (33). Meraih gelar sarjana psikologi dari Universitas Kristen Maranatha Bandung, Jawa Barat, tidak membuatnya tertarik menjadi seorang psikolog atau menggeluti bidang yang sesuai dengan jurusannya semasa kuliah. Jeffry justru memilih berbisnis. Yang unik, bisnis yang digelutinya adalah membuka warung gudeg.

Pilihan Jeffry tentu banyak menimbulkan tanda tanya. Maklum, pria bertubuh tambun ini tidak memiliki darah Jawa asli di tubuhnya. Selain itu, ia juga tidak bisa memasak gudeg. Namun Jeffry tetap mau pantang menyerah.

Saat ditemui SP di sela-sela Festival Jajanan Bango 2015 di Yogyakarta beberapa waktu lalu, Jeffry bercerita banyak tentang asal muasal bisnis Gudeg Yu Nap yang ia kelola sejak sepuluh tahun lalu itu. Menurutnya, ide muncul saat ia sedang sibuk menggarap skripsi. Banyaknya waktu luang yang ia miliki membuatnya melirik ide-ide lain untuk menambah aktivitas.

“Kebetulan di samping rumah di daerah Gunung Batu, Bandung, ada sebidang tanah kosong. Saya pikir, kenapa saya enggak bisnis saja ya?” kisahnya.

Ia pun berniat menjual sesuatu yang tidak mudah ditiru. Kebetulan, Jeffry punya kenalan Zaenab, alias Yu Nap, yang pandai memasak dan piawai mengolah gudeg. Dari situlah, ide berjualan gudeg tiba-tiba muncul di benaknya.

“Kakek saya dan bapaknya Yu Nap dulu sama-sama berbisnis tembakau. Bahkan, keluarga kami sampai menjadi seperti saudara. Setelah bisnis tembakau turun pamor, hubungan kami tetap baik. Jadi saat saya ingin bisnis gudeg, saya langsung teringat pada Yu Nap,” tuturnya.

Gudeg adalah masakan yang butuh proses pembuatan sedikit rumit dan panjang. Inilah yang mejadi entry point bisnis yang digeluti Jeffry. Selain itu, ia menilai, masakan Jawa selalu punya peminat karena orang Jawa ada dimana-mana, termasuk di Bandung tempatnya membuka usaha.

Sebuah warung sederhana berukuran 3×3 meter pun ia buka. Hanya bermodalkan total uang sebesar Rp 3 juta, Jeffry nekad membuka warung Gudeg Yu Nap. Meski begitu, ia tetap serius menggarap total bisnis ini.

Beberapa minggu sebelum warung dibuka, ia membuat pamflet dan brosur dan secara rutin membagi-bagikannya ke masyarakat sekitar. Hasilnya, saat warung resmi dibuka, animo masyarakat pun sangat tinggi. Jeffry hanya menyediakan lima kursi, sementara pengunjung yang datang melebihi kapasitas.

“Bahkan banyak yang bawa kursi sendiri atau makan di mobil,” kenangnya.

Setelah sebulan berjalan, ia pun langsung berbenah dengan merenovasi warung. Jumlah kursi dan meja ia tambah sehingga para pengunjung bisa merasa lebih nyaman.

“Selama 3-5 tahun pertama jualan, setiap ada untung, saya gunakan untuk merenovasi warung dan menambah modal. Sampai-sampai orang tua saya tanya, kok jualan segitu lama tapi enggak ada hasilnya,” katanya seraya tertawa.

Berkah Lewat Komunitas
Jeffry juga sempat membuka cabang di kawasan Trunojoyo, Bandung. Respon yang ia dapat amat baik, namun warung terpaksa ia tutup karena terkendala dengan sewa tempat yang membengkak. Jeffry pun berupaya tetap konsisten dengan warungnya di kawasan Gunung Batu, Bandung dan memperlebar sayap melalui komunitas kuliner yang ia ikuti.

Salah satunya adalah komunitas Jalan Sutra yang dibidani oleh Bondan Winarno. Menurut Jeffry, ihwal bergabungnya ia ke komunitas itu adalah lebih karena ia ingin meminta tanggapan dan saran kepada anggotanya yang ia nilai, piawai dan kritis untuk urusan kuliner.

“Saya ingin mengontrol rasa saya dan mencari review. Makanya saya rajin menghubungi anggota komunitas untuk saya minta datang dan mencicipi lalu minta review-nya. Saya tahu mereka ini rewel-rewel untuk urusan rasa makanan. Jadi saya percaya review-nya pasti jujur” katanya.

Tanpa disangka, inisiatif Jeffry itu mendapat respon positif. Pergaulannya di komunitas dan dunia maya membawa berkah bagi Gudeg Yu Nap. Ia banyak mendapat kenalan dan kolega baru yang membantunya memajukan bisnisnya tersebut. Salah satunya adalah para pakar kuliner seperti William Wongso yang kemudian merekomendasikan Gudeg Yu Nap untuk ikut berpartisipasi dalam ajang bergengsi World Street Food Congress (WSFC) 2015 di Singapura, beberapa waktu lalu. Jeffry dengan Gudeg Yu Nap-nya ikut membuka gerai di WSFC bersama tiga penjaja makanan lain yang diajak oleh Kecap Bango sebagai sponsor dari Indonesia.

Jeffry mengaku sangat gembira mendapat kesempatan itu. Selain sebagai ajang promosi, keikutsertaannya di WSFC lalu juga sekaligus memperkenalkan gudeg di mata dunia. Respon masyarakat Singapura pun di luar dugaan. Gudeg Yu Nap jualan Jeffry ludas hanya dalam tempo beberapa jam saja setiap harinya.

“Dari acara itu, saya juga belajar banyak hal terutama untuk urusan food hygiene. Pemerintah Singapura itu sangat cermat untuk urusan kebersihan makanan. Meski makanan kaki lima pun tetap harus ditangani dengan baik dan benar. Food handling-nya harus tepat dan itu akan kami lanjutkan terus di Indonesia,” tuturnya.

Lantas, apa kiat Jeffry untuk bisa tetap bertahan di bisnis ini? Apalagi, ia berani berjualan gudeg di Bandung, sementara umum diketahui, gudeg itu berasal dari Yogyakarta.

Menurutnya, kiat nomor satu yang ia praktikkan adalah membuat makanan yang benar-benar enak.

“Saya selalu berupaya menjaga kualitas. Sebenarnya sudah banyak yang mengajak saya untuk membuka cabang tapi saya enggak mau karena khawatir proses pengontrolan kualitasnya tidak terjaga,” tuturnya.

Selanjutnya, Jeffry juga mengutamakan pelayanan dan kepercayaan kepada konsumen. Selama 10 tahun berbisnis gudeg, ia tidak pernah mau menerima uang muka untuk setiap pemesanan gudeg atau nasi kotak.

“Sistemnya percaya saja. Dan selama 10 tahun ini, baru satu kali ada kasus cancel tanpa kejelasan,” tambahnya

 

Sumber : http://www.beritasatu.com/figur/333620-sarjana-psikologi-yang-sukses-lewat-bisnis-gudeg.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *