3 Pemuda Ini Raup Untung Jual Kacamata Dari Papan Skateboard Bekas

9 Tips Membangun Bisnis Merek Sendiri ala Millennial
May 18, 2018
Bisnis Topi Laken, Keuntungannya Berlipat-lipat
May 21, 2018

“Kita ingin membuat produk yang mengincar ke fashion. Kebutuhan orang untuk fashion itu tidak hanya baju saja dan salah satu pendukungnya itu ya kacamata termasuk buat penambah gaya. Setelah riset itu kita kembangin lagi di dalam kacamata yang kita buat yaitu glasess nya. Jadi tidak hanya sun glasess saja tetapi segala macam warna. Karena ini custome request jadi kita berusaha memenuhi keinginan dan kebutuhan pasar atau customer kita,” tulis pemilik Kabau, Reinanto Ahmad Aditya.

Anda tidak harus bingung-bingung dalam membangun sebuah bisnis. Faktanya, bisnis bisa datang dari sesuatu yang tidak terduga.  Hal ini dirasakan oleh Reinanto Ahmad Aditya (31).

Ia bersama dua orang temannya yaitu Sofian dan Andro kini menjadi buah bibir karena mampu membuat kacamata unik sejak tahun 2011. Mereka bertiga berhasil memproduksi kacamata dari papan skateboard bekas dengan brand Kabau.

“Kabau ini adalah bisnis yang bergerak di bidang fashion yaitu kacamata. Kacamatanya ini terbuat dari bahan limbah papan skateboard atau papan skateboard bekas. Foundernya sendiri ada tiga orang yaitu saya, Sofian dan Andro. Saya sebagai owner juga di sini dan startingnya itu sekitar akhir 2011,” ungkap Reinanto kepada indotrading, Jumat (16/9/2016).

Menekuni bisnis kacamata memang awalnya tidak direncanakan oleh ketiganya. Namun baik Reinanto, Sofian dan Andro memiliki hobi yang sama yaitu bermain skateboard dan menggambar desain.

Hingga pada suatu hari, ketiganya melihat sebuah papan skateboard yang patah dan dibuang begitu saja. Karena memiliki kayu super tebal dengan gambar yang menarik, ketiganya lantas mengambil papan skateboard patah tersebut.

“Dari situ kita kepikiran aja, kan kalau main skateboard di skatepark itu kalau papan skateboard patah dibuang gitu aja. Nah kita melihat peluang itu untuk dicobain bikin sesuatu,” tambahnya.

Setelah itu, mereka mencoba browsing-browsing internet tentang pemanfaatan limbah kayu. Akhirnya  pilihan jatuh pada kacamata. Kacamata dipilih karena dianggap simpel dan tidak terlalu sulit hingga bahan baku kayu yang digunakan juga tidak begitu banyak. Kemudian mereka bertiga langsung membuat desain kacamata yang diinginkan.

“Akhirnya kita bikin kacamata tapi buat konsumsi pribadi dulu,” katanya.

Singkat cerita, kacamata berbahan dasar papan skateboard bekas yang telah rusak dan patah berhasil dibuat. Kemudian ketiganya sengaja tidak langsung memasarkan kacamata itu dan memilih hanya untuk dikonsumsi oleh mereka sendiri. Tetapi saat mereka menunjukan kacamata tersebut kepada teman-temannya, ternyata banyak yang suka. Reinanto mulai berpikir bila hal ini bisa menjadi sebuah project bisnis yang besar dan sangat potensial untuk digarap.

“Temen-temen bilang hasilnya oke dan positif. Dari situ kita riset dan riset lagi selama 2 setengah tahun dan mulai ada yang order juga. Ya sudah kita memutuskan untuk jalanin bisnis ini,” ucapnya.

Akhirnya bisnis pembuatan kacamata berbahan dasar papan skateboard bekas dirilis tahun 2013. Mereka bertiga sepakat memberi label dengan brand Kabau. Apa artinya?

“Karena kita bertiga itu ada darah Minangnya, nah kita memang mau nyari nama brand yang nggak pakai nama ke barat-baratan karena kita mau mengangkat kearifan lokal. Akhirnya tercetuslah Kabau yang berasal dari nama Minangkabau. Sementara logonya dari rumah gadang tapi kita rubah dan sedikit diestetisin lagi,” ujarnya.

Dari Hobi Bermain Skateboard Menjadi Bisnis Besar 

Kabau atau kacamata berbahan dasar papan skateboard bekas resmi dijual di tahun 2013. Salah satu pendiri Kabau yaitu Reinanto Ahmad Aditya mengungkapkan bila bisnis ini dirintis dengan dua orang temannya yaitu Sofian dan Andro. Mereka bertiga memiliki hobi yang sama yaitu bermain skateboard.

“Emang dasarnya saya kan suka skateboard dan pernah punya mimpi juga punya brand sendiri dari bidang yang saya suka. Nah, karena saya suka skateboard dan karena saya juga dari desain ya udah kita jalani bisnis ini, toh ini yang kita suka dan kita impi-impikan,” ucap Reinanto.

Apalagi hal ini didukung oleh kemampuan ketiganya yang sama-sama suka menggambar desain. Sehingga dengan cepat kacamata kayu berbahan dasar papan skateboard bekas mereka buat.

“Meskipun hasil uangnya berapa itu jadi nomor dua yang pertama itu kecintaan kita dulu dalam bidang ini. Kalau mau berbicara latar belakang saya dari kecil suka banget sama gambar, suka nyobain hal baru dan tidak mudah bosan dan malas-malasan dan itu terbawa sampai saat ini,” tuturnya.

Namun bukan berarti bisnis ini dijalani dengan mudah. Reinanto dan kedua temannya kerap menemui berbagai kendala seperti keterbatasan alat hingga kurangnya sumber daya manusia (SDM).

“Ada (kendala) lah pasti tapi yang kita hadapi selama ini kendala alat yang bisa support bisnis kami. Selain mengerjakan kacamata, kita juga mengerjakan pekerjaan komersil seperti bikin desain dan display untuk orang. Karena kita mengelola dua hal yaitu kacamata dan desain ibaratnya yang satu brand kacamata yang satu studio,” tukasnya.

Meski menghadapi banyak kendala, bisnis pembuatan kacamata berbahan dasar skateboard bekas tetap mereka teruskan. Ketiganya juga konsisten melakukan inovasi produk agar pasar tidak jenuh.

“Inovasi terus kita lakukan seperti penggabungan kayu dan besi.  Nah untuk inovasi brand kita ini adalah tambahan-tambahan materi seperi kulit, kerang, kita juga angkat motif Indonesia,” jelasnya.

Keliling Cari Papan Skateboard Bekas

Demi menciptakan kacamata kayu dari papan skateboard bekas, para pendiri Kabau yaitu Reinanto Ahmad Aditya, Sofian dan Andro rela mengeluarkan uang pribadi untuk modal. Namun tunggu dulu, modal yang dikeluarkan ketiganya juga tidak terlalu besar hanya Rp 500 ribu.

“Modal awal itu karena kita bener-bener nggak ada basic crafting ya jadi pas bikin awal itu kita dengan modal minta papan bekas punya temen dan dibuat dengan alat seadanya kalau budget kita ngeluarin sekitar Rp 500 ribuan, itu juga hasil patungan. Uang Rp 500 ribu itu buat beli ampelas dan mata gergaji,” tutur Reinanto.

Setelah itu, untuk melanjutkan usahanya ketiganya sering berkeliling ke komunitas-komunitas skaters hanya untuk mencari skateboard bekas yang telah rusak atau patah. Skateboard bekas dengan kondisi patah dan rusak kemudian mereka olah menjadi bahan baku pembuatan kacamata.

“Akhirnya kita minta donasi papan skate bekas dari teman-teman. Kita sistemnya barter waktu itu,” tambahnya.

Dengan sistem barter, setiap lima (5) papan skateboard bekas yang kondisinya telah rusak dan patah akan ditukar dengan 1 buah kacamata Kabau. Kemudian papan skateboard tersebut dikumpulkan dan dibersihkan untuk kemudian diolah menjadi kerangka kacamata.

“Bagi yang mendonasikan sekitar 5 papan skate bekas kita kasih mereka satu kacamata dan itu tetap berjalan hingga saat ini,” ucapnya.

Menurut Reinanto, membuat kacamata dari papan skateboard bekas yang kondisinya telah rusak dan patah susah-susah gampang. Papan skateboard akan dilihat terlebih dahulu tingkat kerusakannya dan dinilai kualitasnya apakah masih layak didaur ulang menjadi kacamata atau tidak.

“Kita kan nggak tahu kondisinya seperti apa, keretakannya parah apa nggak karena biasanya ada juga dari satu papan itu nggak bisa dipakai sama sekali. Terus pori-porinya terkadang suka sudah tercampur air, serat-seratnya kita pilih lagi dan baru deh dibuat seperti papan baru lagi dalam bentuk kacamata,” paparnya.

Papan yang tingkat keretakannya tidak bisa lagi dipakai untuk pembuatan kacamata akan dimanfaatkan dan diolah menjadi aksesoris seperti cincin dan kalung. Selain kacamata, Kabau juga menjual berbagai asesoris fashion lain seperti cincin dan kalung, meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak.

“Karena pertama bahannya kan kayu dan kita ingin membuat produk yang memang mengincarnya itu ke fashion. Kebutuhan orang untuk fashionkan tidak hanya baju doang dan salah satu pendukungnya itu ya kacamata. Buat penambah gaya,” jelasnya.

Dijual Hingga Jutaan Rupiah

Karya kacamata Kabau berbahan dasar papan skateboard bekas dijual cukup mahal. Salah satu pemilik Kabau, Reinanto Ahmad Aditya mengungkapkan bila satu buah kacamata Kabau dijual dengan harga hingga jutaan rupiah.

“Kalau kacamata harganya rata-rata Rp 1,3 juta,” ungkapnya.

Harga akan semakin mahal bila desain yang diminta customer semakin rumit. Mahal tidaknya harga kacamata Kabau memang tergantung dari desain dan jenis lensa yang diminta oleh para customer.

“Itu customer sendiri sudah bisa menentukan warna, ukuran dan tipe lensanya seperti apa dan ada nama dan segala macam. Tapi ada juga yang harganya Rp 1,5 juta kita sebenarnya sih lebih konsen ke custom order-nya. Tapi ada juga yang paling mahal itu Rp 1,8 juta dan yang membuat mahal itu tipe lensanya,” imbuhnya.

Meskipun berharga mahal, Reinanto menjamin kacamata Kabau berkualitas. Alasannya, kacamata Kabau dibuat langsung dengan tangan (handmade) tanpa menggunakan mesin apapun seperti laser atau C&C. Oleh karena itu, dalam proses pembuatannya cukup teliti dan memakan waktu yang cukup lama. Per bulan, Kabau hanya mampu menjual 15 buah kacamata.

“Untuk mengejarkan produk ini kan saya sendiri karena kita ngerjain ini berdua jadi kita membatasi produksi. Misalnya satu bulan itu kita bikin 24 buah untuk kacamatanya,” tuturnya.

Selain kacamata, Kabau juga menawarkan berbagai asesoris fashion lain seperti kalung dan cincin. Sama dengan kacamata, kalung dan cincin juga dibuat dari papan skateboard bekas.

“Kita juga coba memanfaatkan itu dengan produk pendukung seperti cincin dan kalung. Itu hasil potongan dari papan untuk kacamata sendiri. Range harganya itu sekitar Rp 50-150 ribu/buah. Kalau untuk kalung dan aksesorisnya itu kita bikin seratus buah setiap bulannya,” sebutnya.

Dapat Order ke Jepang Hingga ke AS

Reinanto Ahmad Aditya bersama Sofian dan Andro  terus mengembangkan bisnis pembuatan kacamata dari papan skateboard bekas. Bisnis yang dimulai sejak tahun 2013 kian dikenal oleh masyarakat di dalam negeri maupun di luar negeri.

Reinanto menuturkan penjualan produk kacamata dengan brand Kabau sudah mampu menembus pasar internasional. Meski diakui Reinanto, jumlahnya belum begitu banyak.

“Tapi kacamata kita juga sempat diorder dari Australia, Jepang, Texas (Amerika Serikat) dan Swiss. Tapi itu dalam bentuk custum order,” tuturnya.

Namun Reinanto mencatat nilai transaksi pembelian dari dalam negeri masih cukup banyak. Umumnya customer yang membeli kacamata Kabau adalah dari kalangan menengah ke atas.

“Yang datang justru dari luar daerah, Jakarta sendiri malah sedikit. Kalau daerah seperti Sumatra, Riau, Aceh, Bali, Kalimantan dan yang paling banyak order itu dari Jawa Tengah sama Sumatra. Pembelinya itu banyak dari kalangan kelas A,” paparnya.

Soal teknik penjualan, saat ini Reinanto lebih banyak menggunakan media sosial seperti Facebook dan Instagram. Ia juga melayani pembelian secara online melalui website perusahaan. Cara lain yang dikembangkan adalah dengan skema ‘titip’ di toko-toko souvenir yang berada di kota Bali.

Reinanto juga bekerjasama dengan sebuah perusahaan bernama Surfing asal Australia. Hal ini dilakukan agar kacamata Kabau bisa lebih dikenal di Negeri Kangguru tersebut.

“Kita ini kan belum punya tokonya cuma ada workshop jadi ya kita marketingnya melalui online dan memanfaatkan media sosial. Selain dpasarkan melalui media sosial dan online kita juga titip ke toko di Bali,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *