Sabrina Mustopo, Bangun Kakoa Untuk Bisnis dan Berdayakan Petani Cokelat

10 Peluang Bisnis Pariwisata
April 4, 2018
6 Trik dan Tips Sukses Menjalankan Usaha Makanan Khas Daerah
April 6, 2018

Melalui perusahaan produsen cokelat yang didirikannya, Kakoa, Sabrina Mustopo tak hanya mengembangkan profit, tapi juga memberdayakan petani cokelat.

Indonesia adalah salah satu negara produsen kakao paling potensial di dunia. Hal ini tentunya tidak terlepas dari peran para petani cokelat yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. Namun demikian, sayangnya kesejahteraan para petani cokelat ini bisa dibilang masih belum memadai. Inilah yang menjadi keprihatinan Sabrina Mustopo, yang kemudian membuatnya tergerak mendirikan Kakoa, sebuah perusahaan produsen cokelat, dengan misi menyejahterakan kehidupan petani cokelat di Indonesia.

Sejak kecil, bidang pertanian memang selalu menarik minat Sabrina. “Masalah yang paling mengganggu saya adalah masalah kelaparan. Saya percaya, cara untuk memberantas kelaparan adalah dengan memproduksi lebih banyak makanan, salah satunya melalui pertanian,” kata Sabrina.

Sabrina memang begitu bergairah pada topik pertanian, maka tak heran ketika menginjak kuliah, ia mengambil jurusan pertanian dan pembangunan pedesaan di Cornell University, Amerika Serikat. Usai lulus, ia sempat bekerja sebagai peneliti dan konsultan di perusahaan konsultan manajemen multinasional McKinsey & Company, yang membawanya menekuni proyek-proyek pertanian di dunia, termasuk Tanzania, Ethiopia dan Papua New Guinea.

Sampai akhirnya, Sabrina pun terpanggil hatinya untuk menerapkan apa yang ia telah pelajari itu ke dunia nyata. Ia ingin menghasilkan hal positif bagi petani cokelat Indonesia, yang kemudian menuntunnya mendirikan Kakoa pada tahun 2014, di bawah perusahaan berbasis di Lampung PT. Aneka Coklat Kakoa.

Sebagai perusahaan produsen cokelat, Kakoa menganut proses bean-to-bar, yang artinya Kakoa secara langsung mengambil biji cokelat dari petani cokelat, dan memproduksinya menjadi cokelat batangan dengan kualitas premium. Sehingga Kakoa menjadi produk cokelat 100 % asli dari Indonesia, hasil bermitra dengan berbagai petani cokelat lokal skala kecil.

“Menjadi petani adalah profesi mulia. Petani telah lama kurang dihargai, padahal mereka melakukan pekerjaan yang sulit. Mereka harus diberi kesempatan untuk memberdayakan diri,” kata Sabrina.

Dalam prosesnya, Kakoa memang memotong mata rantai produksi yang normalnya dilakukan perusahaan cokelat konvensional. Biasanya sebuah cokelat batangan yang kita temukan di pasaran, telah melalui berlapis proses di beberapa pihak. Rantai pasokan ini begitu panjang dan rumit, hingga mengurangi jumlah insentif dan kesejahteraan petani. Oleh karena itu, Kakoa mengintegrasikan produksi end-to-end, dengan memproses biji kakao sendiri setelah membeli langsung dari petani.

Sabrina mengakui, ia memulai Kakoa karena melihat ada banyak masalah dalam sektor cokelat, namun pada saat bersamaan ia juga melihat besarnya potensi pasar yang bisa tercapai melalui perbaikan praktek berbisnis dalam sektor tersebut. Ia  mengembangkan Kakoa dengan visi ingin memperbaiki kualitas hidup petani cokelat Indonesia, dan meningkatkan profil cokelat Indonesia di pasar internasional, yang pada gilirannya akan berkontribusi pada peningkatan ekonomi Indonesia.

Program pemberdayaan petani

Pemberdayaan petani memang menjadi program unggulan Kakoa. Sabrina menjalin kerjasama dengan beberapa pihak untuk eksekusinya, misalnya dengan lembaga WWF, ia menggelar program lokakarya edukatif untuk sejumlah petani kakao di kawasan konservasi, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung. Lokakarya tersebut bertujuan memberikan pengetahuan dan praktek untuk petani, sehingga mereka dapat meningkatkan mutu biji cokelat mereka, belajar manajemen pertanian, dan bagaimana mempertahankan ekosistem pertanian yang sehat.

Sejak 2014 hingga kini, tak kurang dari 60 petani telah ikut berpartisipasi menjalani program pelatihan Kakoa. Kakoa juga berusaha membeli biji kakao dengan harga 50-100 persen lebih tinggi dari harga pasar. Petani yang bekerja dengan Kakoa juga dibayar lebih tinggi dari harga pasaran. “Sehingga kita dapat memengaruhi perilaku petani untuk lebih berkualitas baik dan produktif, dengan cara yang orang lain tidak bisa,” kata Sabrina, yang bekerja dengan 12 orang timnya di Lampung dan Jakarta.

Kemampuan Kakoa untuk bersaing di pasaran, beserta efek sosial yang diciptakan tersebut tak sia-sia. Belum lama berlalu, Kakoa pun menuai apresiasi dan menarik perhatian LGT Venture Filantropi dan Angel Investment Network Indonesia (Angin), untuk mengucurkan investasinya. Kakoa pun berencana memanfaatkan aliran dana itu untuk memberdayakan lebih banyak lagi petani Indonesia ke depannya. Selain itu, Sabrina juga menargetkan untuk memperluas Kakoa ke daerah-daerah lain di Indonesia. “Saya percaya apa yang kami lakukan ini penting pada tingkat makro dan juga pribadi. Karena kami ingin menciptakan sebuah brand yang bangga atas Indonesia,” katanya. (VK/DI)

 

sumber : https://www.hitsss.com/sabrina-mustopo-bangun-kakoa-untuk-bisnis-dan-berdayakan-petani-cokelat/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *