Amran Sulaiman, Pemuda Kampung Itu Kini Jadi Menteri

Profil Pengusaha Muda Wanita Hanifah Ambadar
March 26, 2018
5 Tips Jitu Sukses Bisnis Online
March 28, 2018

Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Nilai transendental dalam ungkapan tersebut tampaknya dipahami betul oleh Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian Kabinet Kerja.

Secara tersirat, hal ini diakuinya ketika berbagi pengalaman dengan awak media yang menemaninya saat kunjungan kerja ke Papua Barat, Kota Sorong, dan Kabupaten Raja Ampat, beberapa waktu silam.

Saat waktu mulai larut, energinya tak kunjung surut. Dari A sampai Z soal lika-liku kehidupannya diceritakan secara runut. Tiada satu penggal pun pengalaman bernilai luput dari kata-katanya.

Padahal, semenjak sehari sebelumnya, baik dari Jakarta hingga terbang ke provinsi kasuari, aktivitas yang dilakoni cukup padat. Terlebih, semuanya dilakukan pada bulan puasa.

Menteri kelahiran Bone, 27 April 1968, ini mengaku terlahir dari keluarga yang kekurangan secara ekonomi. Tapi, itu tak membuatnya berkecil hati dan menggadaikan harga diri.

Berangkat dari kesulitan, tak menghentikan mimpi Amran kecil untuk menjadi orang sukses. Titik balik kehidupannya dimulai dari beternak dua ekor sapi. Dengan kegigihan dan keuletannya, dia mampu mengembangbiakkan sapi hingga 48 ekor.

Sebelum menjadi pesohor di Tanah Air, baik pengusaha sukses hingga menteri, Amran pun meniti karier dari nol. Yakni, dari pegawai di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV yang berpusat di Makassar, Sulawesi Selatan.

Karena idealismenya, pergaulan Amran di perusahaan negara tersebut tak luas. Dengan latar belakang prinsip tadi, juga mendorongnya hengkang dari PTPN XIV, meski posisinya cukup strategis, Kepala Bagian Logistik.

“Sahabat saya cuma satu di PTPN, padahal ada puluhan ribu (pegawai, red),” ungkapnya.

Bermodalkan ijazah S1 Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, mendorong Amran untuk mulai berkutat di sektor agrobisnis. Dibuatlah cara menanggulanngi hama tikus, pestisida, dan menanggulangi hama-hama lainnya.

Meski istrinya berasal dari keluarga berada, bapak empat anak ini lebih bangga mengerahkan dan mengoptimalkan segala sumber daya yang dimilikinya, baik akal, modal, maupun tenaga. Salah satu cara yang diadopsinya dalam meraih kesuksesan ialah belajar dari taipan yang merintis karier dari awal dengan modal seadanya. Tommy Winata, bos Grup Arta Graha, adalah salah satu sosok yang didekati Amran. Permintaannya sederhana, hanya ingin mengetahui kiat sukses Tommy membangun bisnis di sektor perbankan, properti, dan lini ekonomi lainnya dari nol. Karenanya, ketika ditawari uang, justru ditolak Amran. TW, sapaan Tommy, akhirnya membagikan kiat suksesnya. Kemudian, ditiru Amran.

Awalnya, kegagalan demi kegagalan yang didapatkan hingga nyaris putus asa dengan wejangan yang diterimanya. Namun, suatu momen mendatanginya, yakni mengerjakan proyek dengan nilai tender fantastis. Kendati tak memiliki modal, Amran mengambil keputusan besar dengan menyatakan kesiapannya.

Dia lantas memutar otak untuk memenuhi angka proyek yang dibutuhkan. Dewi fortuna berpihak kepadanya, dari pinjaman yang diperolehnya, Amran pun sukses mengumpulkan pundi untuk mengerjakan tender tersebut. “Kalau mau hasil ekstrem, lakukan ekstrem,” jelasnya.

Peraih gelar Doktor Ilmu Pertanian Unhas itu kemudian segera mengembalikan pinjaman kepada teman-temannya. Bahkan, nilai yang dikembalikan lebih dari total uang yang dipinjamnya. Sisa keuntungan lainnya digunakan untuk membangun bisnisnya di bawah bendera Tiran Group. Kini, sudah 14 perusahaan yang didirikannya dan bergerak di berbagai lini usaha. Hak Paten Alat Empos Tikus Alpostran dari Menteri Kehakiman (1995), Surat Izin Khusus Pestisida Tiran 58PS dari Mentan (1997), Surat Izin Tetap Pestisida Tiran 58PS dari Mentan (1998), Surat Izin Tetap Pestisida Ammikus 65PS dari Mentan (2011), Surat Izin Tetap Pestisida Ranmikus 59PS dari (Mentan) 2012, Surat Izin Tetap Pestisida Timikus 64PS dari Mentan (2012), dan Hak Paten Alpostran (Alat Empos Tikus modifikasi) dari Menteri Kehakiman (2014) merupakan berbagai penghargaan yang diraihnya ketika memimpin Tiran Group. Tiran Group bahkan menjadi salah satu pemain penting dalam pembangunan di Indonesia Timur, selain perusahaan Kalla Group, bisnis milik keluarga Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Sebelum menjadi pejabat, Amran pun berhasil menggondol dua penghargaan prestisius. Yakni, Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan di Bidang Wirausaha Pertanian dari Presiden (2007) dan FKPTPI Award 2011 di Bali. Makanya, jangan pernah berharap Amran akan memberikan bantuan cuma-cuma kepada pihak-pihak yang hanya bermodalkan proposal, tanpa ada kristalisasi keringat sebelumnya. “Kalau kita mentalnya mental meminta, itu nggak jadi siapa pun dia. Jadi, bawa proposal itu hina ketemu saya. Anda menghina diri sendiri, membunuh kekuatan diri,” jelasnya. Tak heran, bila pada 26 Oktober 2014 silam, Presiden Joko Widodo mengumumkan Amran sebagai salah satu menteri dari kalangan profesional yang dipilihnya.

“Beliau praktisi pemikir dan wirausaha muda. Ini sosok petani muda yang berhasil membangun sebuah model wirausaha muda,” ungkap Presiden kala mengumumkan menteri-menteri Kabinet Kerja di Istana Negara. Namun, Amran justru di-bully publik dua tahun awal saat menjabat menjadi menteri. “Karena dari kampung, dicari di Google tidak ada,” ujarnya saat membuka sekaligus memberikan pengarahan di depan 5.000 petani di sela Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Jakarta, 10 April silam. Tapi, Jokowi tidak terpengaruh dengan hasutan tersebut dan malah mempertahankan Amran. Tak heran, dari beberapa kali kocok ulang kabinet, namanya tak pernah dipanggil, apalagi diisukan tersingkir.

 

sumber : http://rilis.id/amran-sulaiman-pemuda-kampung-itu-kini-jadi-menteri-1.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *