Kisah Inspiratif Pendiri Blue Bird Group

Profil Wirausaha Sukses Sukanto Tanoto
February 26, 2018
8 Cara Menyiapkan Dana Usaha
February 28, 2018

Semua warga Jakarta pasti mengenal Taksi Blue Bird, namun tahukah jika pendirinya adalah seorang wanita? Ya, Pendiri Taksi Blue Bird adalah bernama Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono yang dilahirkan di Malang pada 17 Oktober 1921. Berasal dari keluarga berada, namun pada usia 5 tahun keluarganya bangkrut. Kehidupan berubah drastis. Banyak hal yang mencirikan kesederhanaan hidup Bu Mutiara semasa kecil. Di saat yang sulit itu Bu Mutiara berusaha merengkuh bahagia, diantaranya banyak membaca kisah-kisah inspiratif yang diperoleh dengan meminjam. Salah satu kisah legendaris yang selalu menghiburnya adalah “Kisah Burung Biru” atau “The Bird Happiness”. Kisah tersebut dilahap berkali-kali dan selalu membakar semangatnya, penabur inspirasi dan pemacu cita-citanya.

Bu Mutiara berhasil masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kemudian Bu Mutiara bertemu dengan Djokosoetono, dosen yang mengajarnya, yang juga pendiri serta Guberbur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Laki-laki itulah yang menikahinya selagi kuliah. Hingga dikaruniai 3 anak yaitu Chandra Suharto, Mintarsih Lestiani, dan Purnomo Prawiro. Setelah menikah, Bu Mutiara bersama keluarga melewatkan kehidupan yang sangat sederhana. Untuk menambah penghasilan keluarga, Bu Mutiara berjualan batik door to door. Tak ada gengsi, tak ada malu, tak ada rasa takut direndahkan oleh sesama isteri pejabat tinggi. Semuanya dilakukan murni sebagai kepedulian isteri untuk membantu suami mencari nafkah.

Namun penjualan batik yang sempat sukses kemudian menurun. Hingga Bu Mutiara beralih kemudi berusaha telur di depan rumahnya. Saat itu telur belum sepopuler sekarang, masih dianggap bahan makanan ekslusif yang hanya dikonsumsi orang-orang menengah ke atas. Dengan lincah Bu Mutiara mencari pemasok telur terbaik di Kebumen. Perlahan-lahan usaha telur Bu Mutiara dan keluarga terus meningkat. Namun disamping itu, penyakit Pak Djoko tak kunjung sembuh, sampai akhirnya pada tanggal 6 September 1965 beliau wafat. Tak berapa lama setelah kepergian Pak Djoko, PTIK dan PTHM memberi kabar yang cukup menghibur keluarga. Mereka mendapatkan dua buah mobil bekas, sedan Opel dan Mercedes. Disinilah awal lahirnya Taksi Blue Bird.

Pada suatu malam, Bu Mutiara mulai merancang gagasan bagi operasional taksi yang dimulai dengan dua buah sedan yang dimiliki. Bu Mutiara mengkhayalkan taksinya menjadi angkutan yang dicintai penumpangnya. Dalam wacana yang sangat sederhana, Bu Mutiara menyusun konsep untuk menjalankan usaha taksinya.

Walau bermodal dua mobil saja, tapi visinya sudah jauh ke depan. Dibantu ketiga anak dan menantu maka dimulailah usaha taksi gelapnya. Uniknya usaha taksi terebut menggunakan penentuan tarif sistem meter yang kala itu belum ada di Jakarta. Untuk order taksi, Bu Mutiara menggunakan nomor telefon rumahnya. Karena Chandra ditugaskan menerima telepon dari pelanggan maka orang-orang menamakan taksi itu sebagai Taksi Chandra. Taksi Chandra yang hanya dua sedan itu kemudian melesat popular di lingkungan Menteng karena pelayanan yang luar biasa. Order muncul tanpa henti. Dari hasil keuntungan saat itu, Bu Mutiara bisa membeli mobil lagi.

Permintaan akan Taksi Chandra terus mengalir. Titik layanan kian melebar, tak hanya di daerah Menteng, tebet, Kabayoran Baru dan wilayah-wilayah di Jakarta Pusat, tapi juga sampai ke Jakarta Timur, Barat dan Utara. Pada tahun-tahun menjelang 1970 relaita membuktikan bahwa mereka mampu memebsarkan armada dan mendulang keuntungan yang signifikan. Mereka bisa menambah jumlah mobil sendiri lebih dari 60 buah.

Memasuki dasawarsa 70-an, Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta saat itu mengumumkan Jakarta akan memberlakukan izin resmi bagi operasional taksi. Peluang inipun direspons Bu Mutiarara. Maka memasuki tahun 1971, dengan spirit penuh, Bu Mutiara segera berangkat ke DLLAJR untuk mendapatkan surat izin operasional. Namun Bu Mutiara selalu ditolak karena alasan bisnis Bu Mutiara masih kecil. Namun Bu Mutiara sosok yang tak kenal putus asa. Tak terhitung jumlahnya berapa kali Bu Mutiara selalu mengalami penolakan. Hingga terbersit ide untuk mengumpulkan isteri janda pahlawan yang telah menitipkan mobil mereka untuk dikelola sebagai taksi. Diajaknya para janda pahlawan untuk bersama-sama menyerukan petisi kemampuan perempuan dalam meimpin usaha. Mereka mendatangi kantor gebernur dan menghadap langsung Ali Sadikin. Menghadapi orasi Bu Mutiara, Ali Sadikin tersentuh dan menetapkan agar Bu Mutiara diberikan izin usaha untuk mengoperasikan taksi..

Akhirnya Bu Mutiara dan anak-anaknya mencari nama dan logo taksi. Ide lagi-lagi datang dari Bu Mutiara, hingga diberilah nama taksi Blue Bird. Dengan logo sederhana berupa siluet burung berwarna biru tua yang sedang melesat, hasil karya pematung Hartono. Logo itu seperti pencapaian yang membuktikan bahwa Bu Mutiara mampu menghidupkan cita-cita yang diteladankan kisah The Bird of Happiness.

Akhirnya sampai saat ini, Blue Bird telah telah berkembang dengan memiliki lebih dari 20.000 unit armada. Kini ada 30.000 karyawan yang berkarya di kantor pusat dan cabang. Tak kurang 9 juta penumpang dalam sebulan terangkut oleh armada Blue Bird di sejumlah kota di Indonesia. Jumlah poolnya juga telah mencapai 28 titik. Blue bird pun telah memiliki anak perusahaan seperti Pusaka, Silver Bird Executive Taxi, Golden Bird Car Rental, Iron Bird Logistic dan Big Bird Bus.

 

sumber : http://nextentrepreneurs.blogspot.co.id/2015/10/kisah-inspiratif-pendiri-blue-bird-group.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *