Kartini dan Usaha Sambal Roa

7 Kesalahan dalam Social Media Marketing
November 1, 2017
5 Tips marketing ini bantu bisnis UMKM cepat berkembang
November 3, 2017

Bagi penikmat makanan pedas, akan kurang jika tidak ada sambal. Beragam cita rasa dan tingkat pedas akan berbeda – beda untuk setiap orang. Selain itu bumbu untuk sambal banyak ragamnya.

Kartini Igrisa, mengembangkan cita rasa pedas dengan memproduksi sambal roa. Kartini bahkan mendapat omset hingga Rp 25 juta setiap bulannya. Wanita paruh baya ini merupakan generasi kedua (next gen) dari sang ayah yang sebelumnya memproduksi ikan cakalang asap.

“Saat itu, SDM (sumber daya manusia) masih kurang, dan banyak ikan yang terbuang percuma. Akhirnya saya belajar sendiri (untuk mengolah ikan menjadi produk unggulan),” kata Kartini, bercerita saat dikunjungi tim #ExploreJNE Manado, di Sindulang I Tumiting, Sulawesi Utara, Kamis (28/9/2017).

Kartini memulai usaha kecil menengah (UKM) dengan konsep home industry pada 2008. Dia memproduksi produk olahan ikan roa dan cakalang, seperti sambal roa dan abon cakalang di rumahnya. Dibantu tiga karyawannya, Kartini memasarkan produk ke toko oleh – oleh di Menado dan media Online.

Kartini memasarkan melalui Facebook, Instagram, Tokopedia, Bukalapak, dan Go-Food. Kartini juga telah memiliki pelanggan tetap dari Surabaya, Bali, Gorontalo, dan Makassar. Kini Kartini telah memilki pelanggan tetap yang memesan produk untuk dijual di supermarket tiap bulannya.

“Kalau penjualan melalui online baru dimulai tahun ini dan pemesanan dari Go-Food setiap hari pasti ada. Paling tinggi pemesanan dari Go-Food sampai Rp 500.000,” kata Kartini.

 

Ibu satu orang anak itu menjelaskan, tiap bulannya dapat menghabiskan 250 kilogram ikan cakalang dan 100 jepit atau 40 kilogram ikan roa.

Berkembangnya usaha Kartini membuat pemerintah setempat melirik peluang usahanya. Dinas Perdagangan, Dinas Perikanan, dan Dinas Pariwisata Manado memberi bantuan berupa fasilitas penunjang.

Seperti motor dan mesin pengolah. Pada tahun 2008, produk sambal roa dan abon cakalang yang diberi nama “Kartini” itu sudah terdaftar sebagai Produk Industri Rumah Tangga (P-IRT).

Sedangkan pada tahun 2017 ini, produknya telah mendapat sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Setiap tahun, sekitar 3-4 kali saya biasa ikut pameran, sudah hampir di seluruh Indonesia. Kalau untuk pemesanan produk di toko oleh-oleh di Manado, satu toko biasanya pesan Rp 8-10 juta sekali pesan,” kata Kartini.

Dalam pengelolaanusaha kuliner ini, Kartini sering mengalami kendala untuk mendapat pasokan ikan cakalang dan roa akibat cuaca buruk. Selain menjadi terhambat harga yang dibeli dari pelelangan menjadi lebih mahal dari biasanya.

Namun, hal tersebut tak membuat dirinya menaikkan harga produk. Kartini menjual produk “Kartini” dengan range harga Rp 25.000-60.000.

“Kami juga kerja sama dengan JNE untuk pengiriman, UKM dapat diskon khusus, saya bisa irit sekitar 20 persen. Tiap bulan, Alhamdulillah omzet transaksi dapat Rp 25 juta,” kata Kartini.

 

Sumber : http://ekonomi.kompas.com/read/2017/09/28/180000826/usaha-sambal-roa-kartini-raup-rp-25-juta-tiap-bulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *