Anak Penderes Go International Bawa Gula Semut ke Pasar Dunia

Nabila NSBWZ Sukses Bisnis Sepatu dari Usia Belia
October 30, 2017
7 Kesalahan dalam Social Media Marketing
November 1, 2017

Gula semut dari Banyumas kini go international, dari pasar Eropa hingga Amerika. Tapi kesuksesan itu diraih dengan tidak tiba-tiba, jatuh bangun dilalui masyarakat di sepanjang aliran Sungai Serayu itu.
Nama Nartam Andrea Nusa (38) menjadi saksi sejarah jatuh bangun pembuat gula di wilayah Banyumas. Terlahir dari keluarga seorang penderes di Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, ia hampir setiap hari melihat aktifitas ayahnya. Mulai dari memanjat pohon kelapa, memasak gula kelapa hingga memasarkannya pada para pengepul.

Kegelisahannya memuncak, mengharap sebuah perubahan terjadi pada para petani gula kelapa atau biasa disebut penderes nira kelapa yang identik sebagai masyarakat yang miskin dan bodoh. Profesi penderes merupakan lingkaran industri gula Jawa yang paling hulu.

Tugasnya adalah menyadap air nira dengan cara memanjat pohon kelapa, duduk di atas pelepah daun kelapa, mengambil wadah atau pongkor yang sudah terpasang sebelumnya. Kemudian menyayat bunga kelapa (manggar) dengan sayatan baru agar keluar air niranya.

Setelah itu kembali memasang wadah kosong yang sebelumnya sudah dicampur dengan air dari kulit manggis dan air kapur gamping untuk menampung air nira. Fungsinya jika gula sudah di cetak hasilnya menjadi keras dan tahan lama.

Namun, semua jerih payah dan pengorbanan sang ayah yang bertaruh nyawa saat memanjat pohon kelapa tidak sebanding dengan hasil penjualan yang didapatkan. Bersama sang kakak yang telah terlebih dahulu bergerak membuat kelompok petani gula kelapa dengan dibantu sebuah LSM dari Kanada, Nartam diajak untuk merekrut anak-anak muda para penderes guna membentuk kelompok pada 1996.

Pergerakan membentuk kelompok tersebut muncul untuk akibat ketimpangan yang diterima para penderes. Dari segi jaminan sosial hingga terikat oleh para pengepul untuk terus menyetorkan gula yang didapat.

LSM tersebut membantu para petani mengubah pola hidup dengan membuat gula yang baik dan tidak terikat dengan pengepul. Namun kelompok ini hanya bertahan hingga tahun 2003. Setelah itu bubar akibat menejemen yang kurang baik.

Lagi-lagi petani terikat dengan pengepul. Situasi serba susah. Harga gula kelapa tidak stabil, tidak ada jaminan sosial, tidak ada akses pasar dan tidak ada kepercayaan pihak bank untuk para petani gula.

Akhisnya LSM lokal datang dan berupaya melanjutkan perjuangan di tingkat pederes dengan model mengubah pola hidup dan membantu pasar. Nartam ikut di dalamnya sebagai kader desa yang diberi penyuluhan pendidikan. Yaitu bagaimana cara mengelola organisasi, produk pasar hingga menejemen ekonomi rumah tangga. Hingga melakukan inovasi membuat gula padat menjadi gula kristal pertama kali di Indonesia.

“Setelah berjalan gula yang dihasilkan bersih, petani juga terus memperbaiki kualitas. Tinggal masalah pasarnya belum teratasi karena sudah bersih pun harga tidak berubah karena masih minoritas,” kata Nartam saat berbincang dengan detikcom, Kamis (26/10/2017).

“Otomatis bagaimana kita perbaiki dan kita cari solusi pasarnya yaitu dengan inovasi gula padat tadi menjadi gula kristal yang harapannya konsumen bisa melihat dengan cepat ‘oh ini gulanya bagus’. Makanya kita ada ajakan inovasi produk dari gula cetak ke gula semut,” sambung Nartam.

Bersama para pemuda yang merupakan anak-anak para penderes, Nartam kemudian membentuk kelompok-kelompok petani di empat Kecamatan di Kabupaten Banyumas. Anak anak penderes muda ini yang akhirnya mencoba mengangkat derajat penderes.

Akhirnya terkumpul 12 orang dengan banyak latar belakang. Seperti tukang ojek atau yang tidak bisa berangkat ke kota mencari pekerjaan.

“Anak-anak penderes Banyumas pertama mengawali gula semut di Indonesia. Kalau saya lihat perubahannya di sini. Entah dari kakak atau muncul di 1995, karena LSM dari Kanada yang mengajarkan membuat gula semut,” ujarnya.

Kabupaten Kulon Progo melakukan study banding pembuatan gula semut di Banyumas pada 2008. Dari situ, akhirnya mereka bisa memasarkan dan mengembangkan petani.

Kini keinginan petani gula sudah cukup kuat untuk membuat wadah lebih besar yang tergabung dari kelompok kelompok dari kecamatan-kecamatan di Banyumas. Akhirnya pada tahun 2011 dibentuk Koperasi Nira Satria sebagai wadah agar banyak manfaat yang bisa didapat oleh petani gula kelapa.

Menurut Nartam, tidak mudah mengubah maindset petani agar berubah dari kebiasaaanya yang mudah dilakukan menjadi kebiasaan baru. Seperti merawat pohon, membuat inovatif produk. Banyak dari petani yang menentang.

“Dan itu yang cukup sulit sehingga harus sabar dan juga harus diberi contoh petani yang sudah mendapatkan manfaatnya dengan membuat gula kristal,” cerita Nartam.

Bahkan sempat terjadi penolakan oleh pengepul saat itu. Pihaknya dianggap telah mematikan mata pencaharian para pengepul dari gula cetak yang dihasilkan oleh petani gula kelapa.

Namun dengan mediasi, akhirnya para pengepul tersebut mau ikut dalam sistem yang dibuat koperasi. Karena keuntungan yang didapat dari gula cetak hanya berkisar Rp 200-300, sedangkan dengan gula kristal pengepul dapat mengantongi keuntungan hingga Rp 1.500. Sementara petani gula kristal sendiri bisa mengantongi keuntungan hingga Rp 3.000-5.000 dari gula cetak.

“Sebenarnya ada yang bebas dari tengkulak, tapi secara ikatan masih terikat. Secara keterbukaan sudah terbuka dalam arti tidak ada pembedaan antara yang kontrak atau yang tidak, jadi sudah fair. Intinya ada keterbukaan antara petani dan pengepul, kalau dulu kan tidak,” ucap Nartam.

Saat ini banyak manfaat yang didapatkan petani gula kelapa yang telah bergabung dalam anggota koperasi ini. Di antaranya jaminan sosial, asurasi komunitas yang dapat digunakan saat ada musibah. Selain itu mereka juga mendapatkan pelatihan tentang koperasi dan pelatihan tentang keorganikan. Seperti bagaimana merawat produksi, program apur sehat serta tungku hemat energi.

“Pola pikir petani kelihatan seperti bagaimana mengelola produksinya. Mereka juga mendapatkan manfaat dari simpanan di koperasi sehingga di saat mereka mau rehab dapur atau rumah, mereka punya uang. Adapula di beberapa anggota punya tabungan yang satu saat bisa membeli tanah,” kisah Nartam.

Keberhasilan melakukan perubahan seperti inovasi gula semut yang saat ini sudah menembus pasar ekspor. Tidak hanya itu, mereka juga mempunyai sertifikat organik internasional dari Amerika, Eropa, Swiss, Kosser, sertifikat fair trade dan HCCP. Kini kapasitas produksinya mencapai 150 ton.

Hal itu membuat Nartam sering diundang oleh Kementerian, lembaga, hingga daerah-daerah di Indonesia untuk shering pengalaman.

“Karena mayoritas Indonesia banyak pohon kelapa. Pernah kita sharing di Kalimantan Timur. Ada dari Timor Leste, ada yang ke sini (Banyumas). Ada juga kita yang diundang ke Thailand atau kabupaten yang ada di Indonesia untuk belajar berkoperasi atau kita yang diundang ke sana. Mereka belajar semua aspek untuk bisa mengubah kondisi mereka tentang kelembagaan koperasi tentang pengelolaan produknya, kelembagaan kelompoknya,” jelasnya.

Sebagai seorang pemuda, dia mengingatkan para pemuda di Indonesia agar lebih memperbanyak dalam kegiatan yang bermanfaat khususnya kegiatan yang bermanfaat untuk masyaratakt sekitar. Dan untuk pemuda anak penderes, generasi penerus anak penderes bukan berati mereka harus meneruskan seperti naik pohon.

Tapi bagimana pemuda-pemuda ini mau berpikir untuk masyarakat petani agar lebih baik lagi. Seperti akses pasar, pengembangan produk agar lebih baik dan bisa diterima di masyarakat.

“Intinya sebagai pemuda bagiamana berusaha memberikan manfaat lebih untuk mayarakat pada umumnya jadi tidak hanya dilihat sisi negatifnya,” pungkas Nartam.
(arb/asp)

Sumber : detikcom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *