Kisah Makaroni Ngehe Ali Muharom

8 Tips Mengembangkan Bisnis dengan Menambah Relasi
October 25, 2017
6 Tips Jual Barang Bekas via Online
October 27, 2017

Makaroni NgeheKuliner dengan harga terjangkau akan mudah dikenal dengan masyarakat. Seperti usaha Ali Muharom yang menjual Makroni Ngehe. Yang membuat makroni special karena banyaknya rasa makroni yang ditawarkan oleh Ali pada pelangganya. Meski untuk memulai usaha tidak mudah namun dengan keuletannya, kini ia berhasil menghidupi 400 karyawan.

Mengawali outlet di kawasan Kebon Jeruk pada 2013, untuk menarik generasi muda Ali mendekor dengan warna merah dengan kata Ngehe menarik perhatian di depan outlet. Kini Makroni Ngehe sudah tersebar mulai dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung hingg Yogyakarta.

Setiap harinya, outlet-outlet Makaroni Ngehe selalu dipenuhi generasi milenial yang sangat  menggemari panganan olahan bercita rasa pedas.

Mengawali usaha bukan hal mudah seperti itu yang dirasakan Ali. Banyak yang meragukan karena telah banyak yang menjual makroni di warung – warung kelontong.

“Tantangannya saya menjual sesuatu yang sudah banyak dijual di warung, bahkan ada yang beranggapan ngapain sih jualan kayak gitu, di warung kan sudah banyak,” kata Ali.

Namun dengan keunikan dan memilki rasa yang berbeda, akhirnya banyak yang membeli. Bahkan pada awalpun Ali memberikan sampel produk kepada anak – anak untuk mencicipinya.

“Setelah itu ada yang tanya berapa harganya, saya jawab ada yang RP 1.000 sampai Rp 5.000 per bungkus, ternyata mereka kaget karena megira harganya mahal karena saya jual di toko dengan segala interior dan ciri khas Makaroni Ngehe,” jelas Ali.

Ali menjelaskan, dari momen tersebutlah Makaroni Ngehe mulai dikenal masyarakat hingga tersebar melalui promosi mulut ke mulut dan pada tahun 2015, Ali memutuskan untuk bekerja sama dengan penyedia aplikasi  transportasi online yang menyediakan layanan pesan antar makanan.

Menurutnya, meyakinkan konsumen terhadap produk yang dijual bukanlah hal mudah, perlu waktu dan usaha yang keras agar produknya mampu dikenal dan tak lupa menjaga kualitas rasa dengan melakukan quality control secara berkala.

“Dulu awal-awal satu outlet omzetnya Rp 30.000 per hari, kini sudah ada 30 outlet dan rata-rata Rp 3 sampai 5 juta, kalau total kurang lebih Rp 3 miliar per bulan,” ungkap Ali saat berbincang dengan Kompas.comdi kantor Makaroni Ngehe Meruya, Jakarta Barat, Rabu (23/8/2017).

Berbagai ragam rasa, dan menu di Makaroni Ngehe pun terus Ali kembangkan demi menjaga rasa setia konsumen terhadap produknya.

Untuk saat ini saja Makaroni Ngehe menjual mulai dari Makaroni Ngehe kering, makaroni basah, makaroni campur atau mix, bihun kering, makaroni basah dan bihun kering, otak-otak, dan mie kriuk.

Sumber : Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *