Koperasi Nira Satria Harumkan Gula Organik di Kancah Internasional

Orisinal Indonesia Apresiasi Pemuda yang Berani Mewujudkan Gagasannya
May 22, 2017
Kece Bareng Orisinal Indonesia
July 26, 2017

Koperasi Nira Satria menyerap produk gula kristal dari 1.074 penderes gula kelapa di Banyumas. Mengharumkan nama Banyumas sebagai penghasil gula kristal organik berkualitas ke Jerman, Eropa, Amerika dan China. Itulah yang kini dilakukan Koperasi Petani Gula Kelapa Nira Satria Banyumas yang bermarkas di Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok.

’’Awalnya hanya sekitar 400 penderes gula kelapa yang bergabung bersama kami. Tahun 2008 koperasi itu dirintis oleh empat kelompok petani gula dengan bimbingan LPPSLH (Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lingkungan Hidup).
Petani pun dulu belum percaya pada kami,’’ tutur Wadiyanto, sekretaris Ko­perasi Nira Satria, ke­marin. Secara bertahap empat kelompok petani kelapa yaitu Manggarmanis- Kedungurang), Gumelar, Mekarsari-Sokawera-Cilongok, Nira Tunas Jaya Rancamaya-Cilongok, dan Cikalmas Pageraji, Cilongok terus bahu membahu. Tak Sia-Sia Dibimbing oleh Pusat Pengembangan Produk Rakyat (P3R), rintisan kelompok Nira Satria berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas produk. Tak sia-sia, pada awal rintisan itu lima ton produk gula kristal mereka dapat, kemudian diekspor ke Swiss dan Jerman.

’’Sekarang (2013) sudah bertambah lima kelompok lagi yaitu dari Banjarpanepen-Sumpiuh, Kemawi dan Klinting-Somegede, Sunya­langu dan Gununglurah-Cilongok. Dari 1.074 perajin gula kristal, ada 719 orang yang aktif menjadi pemasok. Rata-rata jumlah produk mereka tiap hari minimal lima kilogram/perjin,’’ katanya.

Melalui koperasi, para penderes tidak perlu lagi risau dengan fluktuasi harga gula yang kerap terjadi. Mereka juga bisa mengakses fasilitas simpan pinjam, sehingga terbebas dari utang ke tengkulak. Berbagai program pemberdayaan dan perlindungan petani gula kelapa terus diwujudkan oleh koperasi. Mulai dari asuransi komunitas, kebun bibit desa, dan bantuan peternakan kambing bergulir telah dijalankan.

Dari harga gula kristal Rp 12.000 per kilogram, koperasi mengambil Rp 1.000 untuk simpanan masa depan (Simapan) para anggota. Simapan tersebut digunakan untuk tabungan, permodalan sekaligus jaminan anggota. Sebagai anggota koperasi, para perajin juga wajib membayar simpanan wajib Rp 10.000 perbulan. Sementara itu setelah beranak dua ekor, anggota bisa mendapatkan satu ekor bibit. Anak kambing lainnya digulirkan ke anggota lain.

’’Untuk keamanan dan kenyaman bekerja, kami menyediakan jaket dan topi pelindung untuk penderes. Fasilitas asuransi bisa diklaim ketika ada anggota yang kecelakaan atau meninggal saat bekerja. Besarannya Rp 3 juta bagi yang meninggal, dan bagi yang kecelakaan disesuaikan dengan pengeluaran,’’ jelas Yudi Kuntoro selaku Manajer Produksi Koperasi Nira Satria.

Pengawasan terhadap kualitas produk gula kristal juga dilakukan rutin oleh tim Internal Control System (ICS). Tiap kelompok petani gula kelapa biasanya diawasi rata-rata oleh empat orang tim ICS. Setelah diproduksi, anggota biasanya langsung mengum­pulkan produk ke kelompok. Setelah mengalami penyortiran di koperasi untuk menjamin kebersihan, produk gula Kristaltersebut siap ekspor. ’’Belum lama ini Bupati Banyu­mas Ir H Ahmad Husein berkunjung ke sini. Kami berharap wacana dan imbauan Bupati supaya perkantoran menggunakan gula kristal sebagai pengganti gula pasir bisa direalisasikan. Apalagi gula kristal ini memang sudah menjadi ikon Banyumas untuk One Village One Product (OVOP),’’ jelas Kun­toro.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *